Sejarah
Beranda / Sejarah / Ngawi Bukan Sekadar Kota Perlintasan, Jejak Sejarah hingga Tradisinya Masih Terjaga

Ngawi Bukan Sekadar Kota Perlintasan, Jejak Sejarah hingga Tradisinya Masih Terjaga

Seniman kondang kelahiran Ngawi, almarhum Didi Kempot. (Istimewa)

Cepuraya.id, Ngawi – Kabupaten Ngawi selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghubung Jawa Timur dan Jawa Tengah. Letaknya di bagian barat Jawa Timur membuat daerah ini memiliki posisi strategis sekaligus menyimpan perjalanan sejarah yang panjang.

Di balik aktivitas masyarakat dan jalur perlintasan yang terus bergerak, Ngawi menyimpan beragam jejak masa lalu. Mulai dari kawasan penemuan manusia purba, situs perjuangan, kesenian tradisional hingga kuliner khas, semuanya menjadi bagian dari identitas daerah.

Nama Ngawi sendiri memiliki cerita tersendiri. Pemerintah Kabupaten Ngawi menjelaskan, nama tersebut berasal dari kata “awi” yang berarti bambu, kemudian mendapat tambahan awalan “ng” menjadi Ngawi.

Secara geografis, wilayah Ngawi juga berkaitan erat dengan pertemuan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Kondisi tersebut membuat kawasan ini sejak dahulu memiliki posisi penting bagi kehidupan masyarakat sekaligus jalur pergerakan manusia.

Jejak kehidupan manusia bahkan dapat ditarik hingga masa prasejarah. Nama Trinil di Kecamatan Kedunggalar dikenal dalam dunia arkeologi karena kawasan tersebut menjadi lokasi penemuan fosil manusia purba oleh Eugene Dubois pada 1891.

Cepu dan Dua Wajah Sejarah: Jipang di Masa Lalu, Minyak di Masa Kini

Penemuan tersebut menempatkan Trinil sebagai salah satu lokasi penting dalam sejarah penelitian manusia purba di Indonesia. Museum Trinil kini menjadi salah satu tempat yang menyimpan dan memperkenalkan jejak kehidupan purba dari kawasan tersebut.

Ngawi juga memiliki hubungan dengan sejarah perjuangan dan pembentukan bangsa Indonesia. Di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, terdapat rumah yang pernah ditempati dr Radjiman Wedyodiningrat, tokoh yang kemudian dikenal sebagai Ketua BPUPKI.

Radjiman tinggal di kawasan tersebut sejak 1934 dan menjalankan pengabdian sebagai dokter. Rumah yang pernah ditempatinya kini menjadi salah satu situs sejarah yang mengingatkan masyarakat pada perjalanan tokoh tersebut.

Cerita Ngawi tidak berhenti pada peninggalan sejarah. Kehidupan budaya masyarakat juga menghadirkan tradisi yang cukup unik, salah satunya perang nasi di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar.

Tradisi tersebut dilakukan setelah musim panen kedua sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus bagian dari ritual tolak bala. Warga mengumpulkan nasi beserta lauk secara sukarela sebelum kemudian digunakan dalam tradisi perang nasi.

Batik Gedog Didorong Naik Kelas, Bupati Tuban Tekankan Regenerasi dan Inovasi

Dari sisi kuliner, Ngawi memiliki cemue yang menjadi salah satu minuman tradisional khas. Minuman berbahan santan, gula, jahe dan roti tersebut memiliki ciri khas berupa taburan kacang serta bawang merah goreng.

Perpaduan tersebut membuat cemue memiliki karakter rasa yang berbeda dari minuman penghangat pada umumnya. Kuliner tradisional ini menjadi salah satu bagian dari kekayaan gastronomi masyarakat Ngawi.

Potensi alam juga ikut melengkapi wajah Ngawi. Air Terjun Pengantin di Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe, misalnya, memiliki dua aliran air yang berdampingan sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Air Terjun Pengantin.

Air terjun tersebut sebenarnya bernama Air Terjun Suwono dan berada di kawasan yang mendapat aliran air dari wilayah Gunung Lawu. Keberadaan destinasi alam tersebut menjadi bagian lain dari potensi wisata Ngawi.

Kesenian tradisional juga tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tari Orek-orek merupakan salah satu kesenian yang dikenal di Ngawi dan biasa ditampilkan dalam berbagai kegiatan, dengan gerakan dinamis serta iringan gamelan laras slendro.

136 Mahasiswa Luar Jawa di PEM Akamigas Cepu Jalani Skrining Malaria

Ngawi juga memiliki hubungan dengan dunia seni melalui sejumlah nama yang dikenal luas. Didi Kempot dan Mamiek Prakoso disebut lahir di Ngawi, sehingga keduanya turut menjadi bagian dari catatan budaya daerah tersebut.

Berbagai jejak itu menunjukkan bahwa identitas Ngawi tidak terbentuk dari satu unsur saja. Letak geografis, sejarah purbakala, perjalanan tokoh bangsa, tradisi masyarakat, kuliner, kesenian dan potensi alam berpadu membentuk karakter daerah.

Karena itu, Ngawi tidak hanya dapat dilihat sebagai daerah yang dilewati ketika perjalanan menuju Jawa Timur atau Jawa Tengah. Di balik posisinya sebagai wilayah perlintasan, terdapat cerita panjang yang membuat Ngawi memiliki kekayaan sejarah dan budaya tersendiri.

Jejak tersebut masih dapat ditemui hingga sekarang. Dari Trinil hingga rumah Radjiman Wedyodiningrat, dari tradisi perang nasi hingga tari Orek-orek, semuanya menjadi bagian dari perjalanan Ngawi yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

01

Gus Yaqut Sebut Keterangan Saksi KPK Bohong

02

Satgas Pangan Turun ke Blora, 4.100 Ton Jagung Dicek dari Tiga Gudang

03

Batik Gedog Didorong Naik Kelas, Bupati Tuban Tekankan Regenerasi dan Inovasi

04

Putra Rembang Gus Yahya Kembali Dilantik Jadi Wantimpres

05

136 Mahasiswa Luar Jawa di PEM Akamigas Cepu Jalani Skrining Malaria

06

Dapat Laporan Judi, Tim Resmob Polres Blora Amankan 4 Pria di Warung Kopi

07

Profil AKBP Windy Syafutra, Wakapolresta Tuban dengan Harta Rp3,46 Miliar