Cepuraya.id, Blora – Suasana duka masih begitu terasa di rumah sederhana milik keluarga almarhumah M (41), warga Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Rabu (24/6/2026). Sehari setelah kepergian sang ibu, keluarga masih berusaha menerima kenyataan pahit yang datang begitu mendadak.
Di tengah suasana duka itu, perhatian dari berbagai pihak terus berdatangan. Salah satunya datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum 3 Al Mubarok sekaligus Anggota Komisi D DPRD Blora Fraksi PKB, H. Ahmad Fahim Mulabby atau yang akrab disapa Gus Fahim.
Bersama dengan pihak Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, Perwakilan Dinsos P3A Blora, dari Fraksi PKB Blora (Gus Husein dan Ratna Pancarini), Gus Fahim mendatangi rumah duka untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kedatangan Gus Fahim bukan sekadar untuk menyampaikan rasa duka. Ia ingin memastikan secara langsung kondisi keluarga, terutama putri semata wayang almarhumah yang kini harus menjalani hari-harinya tanpa sosok ibu tercinta.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Fahim berbincang cukup lama dengan keluarga besar, termasuk ayah korban dan putri almarhumah yang saat ini berusia 12 tahun.
Di sela perbincangan, ia juga mencoba menelusuri berbagai informasi yang sempat beredar di masyarakat terkait dugaan faktor ekonomi maupun biaya pendidikan yang disebut-sebut menjadi penyebab peristiwa tersebut.
Namun setelah mendengar langsung keterangan dari keluarga, Gus Fahim menyebut bahwa informasi tersebut tidak sepenuhnya benar.
“Saya sudah ke rumahnya, ketemu juga dengan bapaknya yang meninggal dan ternyata sedereknya ada yang di Khozin juga. Alhamdulillah,” ujar Gus Fahim.

Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga masih tergolong cukup dan putri almarhumah pun sebenarnya telah diterima di pondok pesantren pilihannya.
“Ternyata tidak ada motif ekonomi, tidak ada motif pendidikan, dan itu murni. Ini PR bersama juga nggih. Si almarhumah ibunya itu memang pendiam dan introvert,” katanya.
Dari penuturan keluarga, sang anak sebelumnya telah mendaftarkan diri di salah satu pondok pesantren di wilayah Singget, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Keputusan itu diambil karena ia ingin menempuh pendidikan bersama teman-teman seusianya.
“Ini anaknya itu sudah daftar, setelah dikonfirmasi gratis juga pesantrennya. Setelah ditelusuri itu di pondok pesantren Singget dekat sini, ingin ikut teman-temannya,” jelas Gus Fahim.
Meski demikian, rasa kepedulian terhadap masa depan pendidikan sang anak membuat Gus Fahim menawarkan sesuatu yang lebih.
Di hadapan keluarga, ia membuka pintu Pondok Pesantren Khozinatul Ulum 3 Al Mubarok bagi putri almarhumah apabila suatu saat ingin melanjutkan pendidikan di sana.
Bahkan, bukan hanya biaya pendidikan yang akan digratiskan. Seluruh kebutuhan selama mondok, mulai dari sekolah hingga kebutuhan makan, siap ditanggung.
“Tadi dari kami tetap memberikan bantuan dan sudah kami tawari kalau pengen mondok di Khozinatul Ulum 3 monggo. Nanti sekolah, makannya, saya tanggung semua. Monggo nek menawi ngersakke,” ungkapnya.
Namun untuk saat ini, keluarga menyampaikan bahwa sang anak tetap ingin melanjutkan pendidikan di pondok pesantren yang sebelumnya telah dipilih.
“Ternyata memilih di Singget, ya sudah,” ujarnya.
Meski begitu, Gus Fahim memastikan tawaran tersebut tetap terbuka. Ia bahkan kembali menyampaikan bahwa apabila kelak sang anak ingin melanjutkan pendidikan jenjang aliyah, Pondok Pesantren Khozinatul Ulum siap menerimanya tanpa dipungut biaya.
“Kalau ke depan pengen neruske aliyahnya, nanti bisa di Khozin juga. Monggo nanti gratis,” tegasnya.
Tawaran itu disambut hangat oleh keluarga besar almarhumah. Mereka menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan di tengah masa-masa sulit yang sedang dihadapi.
“Tadi jawabnya si mbahe, inggeh matur nuwun dan matur sedereke onten sing teng Khozinatul Ulum,” tutur Gus Fahim.
Sebelumnya, warga Kabupaten Blora sempat digegerkan dengan kabar ditemukannya M (41) meninggal dunia dalam posisi tergantung di ruang keluarga rumahnya.
Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto melalui Kasihumas Polres Blora AKP Midiyono menyampaikan, hasil pemeriksaan medis tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis di lokasi kejadian, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban. Peristiwa ini murni bunuh diri,” ujar AKP Midiyono.
Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga, kunjungan tersebut setidaknya menghadirkan secercah harapan bahwa masa depan pendidikan putri almarhumah tetap mendapat perhatian dan dukungan dari banyak pihak.









