Cepuraya.id, Blora – Seni karawitan adalah warisan leluhur yang tak lekang oleh jaman. Bukan hanya sebagai hiburan rakyat saja tapi sarat akan makna falsafah tentang kehidupan.
Dengan gamelan sebagai instrumen utamanya, karawitan juga berperan sebagai media spiritual, simbol status sosial, dan sarana hiburan yang menyatukan masyarakat. Seperti pentas seni karawitan di salah satu warga yang menyelenggarakan hajatan di Desa Sumberejo, Kecamatan Randublatung (Kamis, 13/11/2025).
Seni Karawitan Sami Wiji adalah salah satu kelompok seniman yang terus melestarikan seni budaya jawa. Seni karawitan yang di asuh oleh Supatno dari Desa Kediren, Kecamatan Randublatung ini sudah menguasai tembang lawas seperti tembang macapat dan tembang tembang masa kini. Tembang-tembang yang dibawakan banyak yang menceritakan sebuah lika liku kehidupan, nasehat luhur, dll.
“Karawitan Jawa bukan hanya seni memainkan gamelan, tetapi juga menjadi media pembelajaran hidup yang mengajarkan manusia mengolah rasa, membangun kerukunan, dan memahami nilai-nilai kebersamaan, ” kata Supatno saat ditemui usai pentas seni karawitan untuk memeriahkan hajatan warga.

Supatno menambahkan bahwa karawitan Jawa memiliki keunggulan yang khas karena memadukan nada, irama, dan syair yang sarat makna. Setiap gending mampu menyampaikan cerita perjalanan manusia secara mendalam.
“Syair-syair dalam karawitan bisa menceritakan sesuatu dari perjalanan manusia. Itu bukan hanya hiburan, tapi sarana pembelajaran,” tuturnya.
Baginya, setiap tabuhan gamelan adalah ajakan untuk merasakan harmoni. Nada-nada yang saling mengisi membentuk irama kolektif yang membutuhkan kepekaan dan kerjasama antar pemain.
“Mengolah rasa manusia itu harus mengolah rasa secara utuh. Dalam karawitan, setiap pemain harus peka terhadap yang lain, supaya irama tetap selaras,” imbuhnya.









